
Selasa, 21 April 2026, Forum PBMTI Kedu menyelenggarakan kegiatan Halal Bihalal BMT se-Karesidenan Kedu yang bertempat di Pantai Dewa Ruci. Acara yang dimulai pukul 12.00 WIB ini dihadiri sekitar 60 peserta dari 44 BMT di wilayah Kedu, yang terdiri dari unsur perwakilan MPD se-Kedu.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Forum BMT se-Kedu, Ahmad Sugandi. Turut hadir sebagai narasumber, Budi Santoso dan Karsiwi. Dari KSPPS Umat Sejahtera Mulia (USM), hadir Ahmad Sugandi, Ariyanti, S.I.Kom (Manajer Maal), serta M. Afif (Plt. Kepala Cabang Kebumen).
Dalam sambutannya, Ahmad Sugandi menyampaikan sejumlah poin strategis, di antaranya program pendampingan Koperasi Nasional (KOPNAS) yang saat ini telah berjalan pada tiga BMT di Kedu dengan masa pendampingan enam bulan dan dibiayai oleh Forum BMT Kedu. Ia juga mengapresiasi partisipasi anggota dalam iuran Ta’awun yang mendukung gerakan pendampingan tersebut.
Selain itu, Ahmad Sugandi mengajak seluruh BMT di Kedu untuk mencapai target 100% akreditasi minimal peringkat C. Ia juga menyinggung hasil Rakernas PBMTI di Yogyakarta, khususnya terkait peraturan terbaru mengenai keanggotaan.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Karsiwi menekankan pentingnya menjalankan aktivitas sehari-hari dalam bingkai syariah, mulai dari hal kecil hingga aktivitas besar. Ia juga mengingatkan bahwa kondisi yang dihadapi saat ini merupakan takdir terbaik dari Allah, sehingga perlu disyukuri dengan terus meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, tujuan utama dari ibadah Ramadan adalah membentuk pribadi yang bertakwa, yang tercermin dalam semangat menuntut ilmu (tholabul ‘ilmi), beramal, dan istiqomah. Ia juga mengajak peserta untuk mengambil pelajaran dari fenomena BMT yang mengalami penurunan sebagai bahan evaluasi dalam memperbaiki tata kelola lembaga.
Sementara itu, dalam sesi motivasi, Budi Santoso menyampaikan bahwa masa depan koperasi sangat dipengaruhi oleh kesiapan dalam mengadopsi teknologi, terutama dengan adanya RUU Perkoperasian yang tengah dibahas, termasuk legalitas transaksi digital. Ia menekankan bahwa model bisnis BMT ke depan harus berorientasi pada nilai manfaat (value purpose) bagi masyarakat sekitar.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa salah satu akar permasalahan BMT yang mengalami kegagalan adalah kurangnya transparansi dan keterbukaan. Oleh karena itu, seluruh elemen dalam struktur organisasi—pengurus, pengawas, DPS, dan pengelola—harus berfungsi optimal dan saling bersinergi. Ia juga mengingatkan pentingnya penanganan risiko seperti NPF (Non Performing Financing) secara preventif dan kuratif, serta memperkuat sistem audit internal guna mencegah fraud.
Dalam paparannya, disampaikan pula berbagai peluang dan tantangan BMT ke depan. Dari sisi peluang, perkembangan bisnis digital membuka ruang yang luas bagi BMT untuk berinovasi, meskipun regulasi terkait transaksi elektronik masih dalam proses penguatan. Selain itu, kekuatan utama BMT terletak pada kedekatannya dengan masyarakat lokal, sehingga perlu menggali keunggulan dan kebutuhan anggota secara lebih mendalam.
Adapun tantangan yang dihadapi meliputi faktor eksternal seperti kompetisi dengan lembaga lain, serta faktor internal seperti keterbukaan, komunikasi, dan kompetensi sumber daya manusia. Oleh karena itu, pemilihan pengurus dan pengawas harus mempertimbangkan aspek kompetensi agar mampu menjalankan fungsi kelembagaan secara optimal.
Melalui kegiatan Halal Bihalal ini, diharapkan seluruh BMT di wilayah Kedu dapat semakin memperkuat sinergi, memperbaiki tata kelola, serta memenuhi regulasi, khususnya Permenkop Nomor 8 Tahun 2023. Dengan demikian, BMT diharapkan mampu menjadi lembaga keuangan syariah yang sehat, kuat, transparan, dan patuh regulasi, serta memberikan pelayanan terbaik dalam meningkatkan kesejahteraan anggota.


