Tugas Berat Zaid bin Tsabit

Zaid Bin Tsabit menyaksikan bagaimana kondisi Rasulullah ketika menerima wahyu dari malaikat Jibril. Dia dibesarkan bersama ayat-ayat Alquran sehingga mampu memahami dengan baik ketika wahyu Allah tu run. Karena pengalamannya itu, dia telah memahami syariah sejak usia dini. Zaid juga sebagai salah satu cendekiawan muda di antara sahabat Rasulullah.

Setelah Rasulullah wafat, Zaid mendapatkan tugas untuk mengotentifikasi Alquran karena banyak penghafal Alquran tewas dalam peperangan. Umar bin Khattab meyakinkan Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran dalam manuskrip. Abu Bakar kemudian memanggil Zaid untuk membahas pengumpulan Alquran.

Abu Bakar yakin pemuda itu cerdas dan terpercaya. Bagi Zaid, mengumpulkan Alquran adalah tugas yang sangat berat. Bahkan, dia membandingkan hal itu dengan meng geser gunung yang dinilainya masih lebih mudah. Meski demikian, dia tetap menerima tugas tersebut.

Zaid mulai mengumpulkan bagian-bagian Alquran yang ditulis di perkamen, tulang belikat, daun pohon kurma, dan ingatan manusia. Dia melaksanakan tugas ini dengan penuh kehati-hatian dan bersungguh-sungguh. Dia menjaga agar tidak ada satu kesalahan pun.

Zaid telah menyelesaikan pekerjaannya sebelum Abu Bakar wafat. Dia membuat satu suhuf Alquran. Sebelum meninggal, dia mewariskan suhuf ini kepada Umar bin Khattab. Kemudian, Abu Hafs memberikan mushaf itu kepada putrinya yang juga istri Rasulullah, Hafsah, yang juga penghafal Alquran.

Selama masa kekhalifahan Usman bin Affan, daerah kekuasaan Islam meluas. Dam paknya mereka memiliki bahasa yang ber beda dalam membaca Aqluran. Sekelompok sahabat Rasulullah yang dipimpin oleh Huzayfah bin Yaman di Irak mendatangi Usman dan mendesaknya menyelamatkan umat Islam sebelum mereka memahamai Alquran dengan berbeda.

Usman mendapatkan manuskrip Alquran dari Hafsah dan memanggil Zaid bin Sabit serta beberapa sahabat lain yang berkompeten membuat salinan Alquran dengan akurat. Zaid kembali mendapatkan tugas dari Usman untuk menyalin Alquran. Dia pun menyalin Alquran dengan teliti.

Zaid bersama asistennya menulis banyak salinan. Setiap salinan itu dikirim ke setiap provinsi kekuasaan Islam. Sedangkan, salinan lainnya yang tidak sesuai dengan salinan tersebut harus dibakar. Hal ini penting untuk menghilangkan berbagai versi Alquran yang berbeda dari teks standar. Usman juga menyimpan satu salinan untuk dirinya sendiri. Sedangkan, mushaf yang asli dikembalikan kepada Hafsah.

Zaid pun menjadi seorang yang berwenang menulis Alquran. Umar bin Khatab pun pernah berbicara kepada kaum Muslim agar menemui Zaid jika ingin bertanya tentang Alquran. Setelahnya para tabi’in mendatanginya dan mendapatkan pengetahuan Alquran secara jelas. Ketika Zaid meninggal, umat Islam merasakan kesedihan mendalam. Umat Islam patut berterima kasih kepada Zaid karena dia telah membantu melestarikan Alquran yang kekal sepanjang masa.

Sumber

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.